Menurut WHO pada tahun 2015, sedikitnya
jumlah bayi baru lahir yang mengalami kematian sebanyak 45% dari jumlah
kematian anak dibawah umur 5 tahun (Balita). Salah satu penyebab utama angka
kematian bayi yang tinggi adalah masalah berat badan lahir dibawah 2500 gram
(BBLR). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan, prevalensi kejadian
BBLR di Indonesia mencapai angka 10,2%.
Paparan asap rokok adalah keadaan seseorang
terpapar langsung dengan asap rokok baik secara aktif maupun pasif. Seperti
kita ketahui bersama bahwa asap rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan
seseorang. Ibu hamil yang merokok baik aktif maupun pasif dapat mempengaruhi
dan merusak perkembangan janin dalam rahim dan dampak yang paling sering
terjadi ialah BBLR. Berat badan bayi yang dilahirkan dari ibu yang merokok baik
secara aktif maupun pasif rata-rata lebih rendah 40 hingga 400 gram
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu yang tidak merokok baik
secara aktif maupun pasif.
Paparan asap rokok pada ibu hamil akan menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan janin, sehingga akan berpengaruh pada berat plasenta.
Kita tahu bahwa plasenta memegang peranan penting sebagat alat untuk
menyalurkan bahan nutrisi dari ibu ke janin. Semakin sering terpapar asap rokok
maka akan memberikan kontribusi pada efek akumulasi kandungan nikotin dalam
darah, sehingga kelancaran transportasi nutrisi dan oksigen mengalami gangguan.
Hal ini lah yang mempengaruhi berat plasenta ibu hamil. Hasil penelitian di
RSUD Syekh Yusuf pada tahun 2012 menemukan berat plasenta yang kurang, lebih
banyak terjadi pada responden yang terpapar asap rokok (97,8%) dibandingkan
responden yang tidak terpapar asap rokok (22,2%). Salah satu faktor penyebab
terjadinya Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ialah berat plasenta. Berat plasenta
yang kurang, 43 kali lebih besar dapat menyebabkan BBLR.
Maka dari itu, ibu hamil sebaiknya dihindarkan dari
paparan asap rokok untuk mencegah bayi mengalami BBLR.





0 komentar:
Posting Komentar