Minggu, 30 Oktober 2016

5 Faktor Resiko Stunting Pada Anak


Kejadian stunting pada anak-anak masih merupakan masalah serius khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan angka anak yang mengalami stunting di Indonesia. Hasil Riskesdas memperlihatkan pada tahun 2010, jumlah anak yang mengalami stunting sebanyak 35,6%. Angka ini mengalami peningkatan menjadi 37,2% pada tahun 2013. Stunting menggambarkan riwayat kekurangan gizi yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Stunting pada anak mengakibatkan penurunan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi. Kecenderungan untuk menderita penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, jantung dan obesitas akan lebih tinggi ketika anak stunting menjadi dewasa. Anak stunting mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata- rata anak yang tidak stunting. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, anak yang stunting memiliki risiko 9,2 kali lebih besar untuk memiliki nilai IQ di bawah rata-rata, dan rata- rata prestasi belajar lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Berikut beberapa Faktor Resiko penyebab terjadinya stunting pada anak :

        1.    Penyakit Infeksi

Ada beberapa penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak. Diantara penyakit infeksi tersebut, Diare dan ISPA merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada anak. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun yakni sebanyak 25,8%.
Penyakit infeksi memberikan dampak negatif terhadap status gizi anak dalam hal mengurangi nafsu makan dan penyerapan zat gizi dalam usus, terjadi peningkatan katabolisme sehingga cadangan zat gizi yang tersedia tidak cukup untuk pembentukan jaringan tubuh dan pertumbuhan. Menurut penelitian yang dilakukan di peru tahun 2003 , anak yang mengalami diare dalam kurun waktu 24 bulan pertama kehidupan cenderung untuk lebih pendek 1,5 kali dan terjadi peningkatan risiko stunting sebesar 7,46 kali pada anak yang diare. Sedangkan anak yang mederita ISPA, memiliki resiko 3 kali lebih besar mengalami gizi buruk.

        2.   Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Faktor resiko kedua penyebab terjadinya stunting pada anak adalah Berat Bayi Lahir Rendah. Anak dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram, memiliki risiko menjadi stunting sebesar 3 kali dibandingkan dengan anak yang lahir dengan berat badan normal. Prevalensi BBLR di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 10,2% dan jumlah terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 16,9%.

        3.   Rendahnya pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak. Anak dengan pendapatan keluarga yang rendah memiliki risiko menjadi stunting sebesar 8,5 kali dibandingkan pada anak dengan pendapatan keluarga tinggi. Penelitian yang pernah dilakukan di Maluku memperlihatkan bahwa salah satu faktor resiko stunting pada anak balita adalah status ekonomi sosial keluarga yang rendah. Biaya hidup  tinggi yang diperhadapkan pada pendapatan keluarga yang rendah akan membuat keluarga semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

        4.   Keturunan (salah satu orang tua pendek)

Penelitian yang dilakukan di aceh tahun 2014 menempatkan faktor Keturunan menjadi faktor yang paling dominan terhadap kejadian stunting pada anak. Hasil penelitian menunjukkan anak yang memiliki kedua atau salah satu orang tua yang pendek, memiliki risiko sebesar 13 kali untuk menjadi stunting dibandingkan dengan anak yang memiliki orang tua dengan tinggi badan normal.

        5.   Pola asuh yang kurang baik

Hasil penelitian di aceh tahun 2014 juga menyatakan bahwa pola asuh yang kurang baik merupakan salah satu Faktor Resiko terjadinya Stunting. Pola asuh yang dinilai yaitu dalam hal praktek pemberian makan, praktek kebersihan dan praktek pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu memberikan makan anak tidak memperhatikan pola gizi seimbang. Anak juga sering diberi makanan jajanan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal. Berdasarkan pengamatan di lapangan ada sebagian ibu yang tidak mencuci tangannya saat memberi makan pada anak dan setelah membersihkan buang air besar anak. Praktek kebersihan anak memengaruhi pertumbuhan linier anak melalui peningkatan kerawanan terhadap penyakit infeksi.

0 komentar:

Posting Komentar