Kejadian stunting pada anak-anak masih merupakan masalah serius
khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan angka anak yang
mengalami stunting di Indonesia. Hasil Riskesdas memperlihatkan pada tahun 2010,
jumlah anak yang mengalami stunting sebanyak 35,6%. Angka ini mengalami
peningkatan menjadi 37,2% pada tahun 2013. Stunting menggambarkan riwayat
kekurangan gizi yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Stunting pada anak
mengakibatkan penurunan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan risiko terkena
penyakit infeksi. Kecenderungan untuk menderita penyakit tekanan darah tinggi,
diabetes, jantung dan obesitas akan lebih tinggi ketika anak stunting menjadi
dewasa. Anak stunting mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan
rata- rata anak yang tidak stunting. Menurut beberapa penelitian yang telah
dilakukan, anak yang stunting memiliki risiko 9,2 kali lebih besar untuk
memiliki nilai IQ di bawah rata-rata, dan rata- rata prestasi belajar lebih rendah
dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Berikut beberapa Faktor Resiko
penyebab terjadinya stunting pada anak :
1. Penyakit Infeksi
Ada beberapa penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak.
Diantara penyakit infeksi tersebut, Diare dan ISPA merupakan penyakit yang
paling sering terjadi pada anak. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok
umur 1-4 tahun yakni sebanyak 25,8%.
Penyakit
infeksi memberikan dampak negatif terhadap status gizi anak dalam hal
mengurangi nafsu makan dan penyerapan zat gizi dalam usus, terjadi peningkatan
katabolisme sehingga cadangan zat gizi yang tersedia tidak cukup untuk
pembentukan jaringan tubuh dan pertumbuhan. Menurut penelitian yang dilakukan
di peru tahun 2003 , anak yang mengalami diare dalam kurun waktu 24 bulan
pertama kehidupan cenderung untuk lebih pendek 1,5 kali dan terjadi peningkatan
risiko stunting sebesar 7,46 kali pada anak yang diare. Sedangkan anak yang
mederita ISPA, memiliki resiko 3 kali lebih besar mengalami gizi buruk.
2. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Faktor resiko kedua penyebab terjadinya stunting pada anak
adalah Berat Bayi Lahir Rendah. Anak dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram,
memiliki risiko menjadi stunting sebesar 3 kali dibandingkan dengan anak yang
lahir dengan berat badan normal. Prevalensi BBLR di Indonesia sendiri tercatat
sebanyak 10,2% dan jumlah terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah
sebanyak 16,9%.
3. Rendahnya pendapatan keluarga
Pendapatan
keluarga yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak. Anak
dengan pendapatan keluarga yang rendah memiliki risiko menjadi stunting sebesar
8,5 kali dibandingkan pada anak dengan pendapatan keluarga tinggi. Penelitian yang pernah dilakukan di
Maluku memperlihatkan bahwa salah satu faktor resiko stunting pada anak balita
adalah status ekonomi sosial keluarga yang rendah. Biaya hidup tinggi yang diperhadapkan pada pendapatan
keluarga yang rendah akan membuat keluarga semakin sulit memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
4. Keturunan (salah satu orang tua pendek)
Penelitian yang dilakukan di aceh tahun 2014 menempatkan faktor
Keturunan menjadi faktor yang paling dominan terhadap kejadian stunting pada
anak. Hasil penelitian menunjukkan anak yang memiliki kedua atau salah satu orang tua yang
pendek, memiliki risiko sebesar 13 kali untuk menjadi stunting dibandingkan
dengan anak yang memiliki orang tua dengan tinggi badan normal.
5. Pola asuh yang kurang baik
Hasil penelitian di aceh tahun
2014 juga menyatakan bahwa pola asuh yang kurang baik merupakan salah satu
Faktor Resiko terjadinya Stunting. Pola asuh yang dinilai yaitu dalam hal praktek pemberian
makan, praktek kebersihan dan praktek pengobatan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ibu memberikan makan anak tidak memperhatikan pola gizi
seimbang. Anak juga sering diberi makanan jajanan sehingga kebutuhan gizi anak
tidak terpenuhi secara optimal. Berdasarkan pengamatan di lapangan ada sebagian
ibu yang tidak mencuci tangannya saat memberi makan pada anak dan setelah
membersihkan buang air besar anak. Praktek kebersihan anak memengaruhi
pertumbuhan linier anak melalui peningkatan kerawanan terhadap penyakit
infeksi.






0 komentar:
Posting Komentar