5 Faktor Resiko Stunting Pada Anak

Kejadian stunting pada anak-anak masih merupakan masalah serius khususnya di Indonesia.

Dampak Minum Teh Setelah Makan

tahukah anda bahwa meminum segelas teh setelah makan mempunyai dampak negatif terhadap proses penyerapan makanan?

Gizi dan Anak Usia Dini

Ada berbagai macam masalah gizi yang melanda Indonesia saat ini khususnya bagi anak usia dini.

Sindrom Metabolik dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Sindrom Metabolik merupakan faktor terjadinya peningkatan penyakit kardiovaskular dan penyakit diabetes.

Dari 4 Sehat 5 Sempurna Menuju Gizi Seimbang

Tahukah Anda Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna Telah Diganti?

Senin, 31 Oktober 2016

Waspada, Paparan Asap Rokok Dapat Memicu Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)


Menurut WHO pada tahun 2015, sedikitnya jumlah bayi baru lahir yang mengalami kematian sebanyak 45% dari jumlah kematian anak dibawah umur 5 tahun (Balita). Salah satu penyebab utama angka kematian bayi yang tinggi adalah masalah berat badan lahir dibawah 2500 gram (BBLR). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan, prevalensi kejadian BBLR di Indonesia mencapai angka 10,2%.
Paparan asap rokok adalah keadaan seseorang terpapar langsung dengan asap rokok baik secara aktif maupun pasif. Seperti kita ketahui bersama bahwa asap rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan seseorang. Ibu hamil yang merokok baik aktif maupun pasif dapat mempengaruhi dan merusak perkembangan janin dalam rahim dan dampak yang paling sering terjadi ialah BBLR. Berat badan bayi yang dilahirkan dari ibu yang merokok baik secara aktif maupun pasif rata-rata lebih rendah 40 hingga 400 gram dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu yang tidak merokok baik secara aktif maupun pasif.
Paparan asap rokok pada ibu hamil akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin, sehingga akan berpengaruh pada berat plasenta. Kita tahu bahwa plasenta memegang peranan penting sebagat alat untuk menyalurkan bahan nutrisi dari ibu ke janin. Semakin sering terpapar asap rokok maka akan memberikan kontribusi pada efek akumulasi kandungan nikotin dalam darah, sehingga kelancaran transportasi nutrisi dan oksigen mengalami gangguan. Hal ini lah yang mempengaruhi berat plasenta ibu hamil. Hasil penelitian di RSUD Syekh Yusuf pada tahun 2012 menemukan berat plasenta yang kurang, lebih banyak terjadi pada responden yang terpapar asap rokok (97,8%) dibandingkan responden yang tidak terpapar asap rokok (22,2%). Salah satu faktor penyebab terjadinya Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ialah berat plasenta. Berat plasenta yang kurang, 43 kali lebih besar dapat menyebabkan BBLR.


Maka dari itu, ibu hamil sebaiknya dihindarkan dari paparan asap rokok untuk mencegah bayi mengalami BBLR.

Tantangan Seorang Ahli Gizi


Dewasa ini, pengaturan pola konsumsi sangat dibutuhkan bagi setiap masyarakat. Khususnya yang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes, hipertensi, jantung dan sebagainya, sangat dianjurkan untuk mengatur pola makan sesuai dengan anjuran pedoman gizi seimbang. Bahkan, bagi penderita penyakit seperti diabetes, wajib hukumnya menjaga dan mengatur pola makanan agar penyakit tersebut tidak bertambah parah. Bukan hanya penderita, orang yang sehat pun disarankan menjaga pola makan agar terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya tersebut.
Salah satu yang menjadikan sulitnya untuk mengubah pola makan adalah faktor kebiasaan. Untuk merubah kebiasaan makan seseorang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh tekad yang kuat, konsistensi, bahkan pengorbanan untuk dapat merubah kebiasaan makan secara total. Lantas, jika kita misalnya menderita penyakit seperti diabetes, haruskah kita merubah kebiasaan makan kita? jika dikatakan bahwa kita harus menghindari makanan yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah saya sepakat. Namun, jika dikatakan harus merubah kebiasaan makan saya kurang setuju. Sebab, untuk menghindari peningkatan kadar glukosa darah tidak harus dengan mengganti kebiasaan makan. Sebagai contoh, orang yang memiliki kadar glukosa tinggi, memiliki kebiasaan minum teh setiap pagi. Jika ia ingin menurunkan kadar glukosa darahnya apakah harus dengan merubahnya kebiasaannya menjadi tidak minum teh setiap pagi? Ada alternatif lain seperti mengganti dengan teh tanpa gula atau dengan mengganti gula tersebut dengan gula rendah glukosa, sehingga orang ini tetap dapat minum teh setiap pagi tanpa harus khawatir kadar glukosa darahnya meningkat. Itulah menurut saya salah satu tantangan terbesar dari para ahli gizi, bagaimana mereka tidak menyarankan untuk merubah kebiasaan makan kepada penderita, tetapi memberikan solusi dimana penderita/pasien tetap dapat makan sesuai dengan apa yang mereka sukai tanpa harus khawatir dengan penyakitnya.

Untuk itu seorang ahli gizi dituntut untuk selalu terus berinovasi menemukan dan menciptakan terobosan-terobosan baru serta penelitian-penelitian yang berkualitas yang mampu membuat Indonesia keluar dari beban ganda masalah gizi yang sedang dialami saat ini. Cupcake dari tepung jagung terfermentasi serta brownies dari tepung biji kecipir merupakan sebagian kecil inovasi yang telah dilakukan oleh para ahli gizi.

Minggu, 30 Oktober 2016

5 Faktor Resiko Stunting Pada Anak


Kejadian stunting pada anak-anak masih merupakan masalah serius khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan angka anak yang mengalami stunting di Indonesia. Hasil Riskesdas memperlihatkan pada tahun 2010, jumlah anak yang mengalami stunting sebanyak 35,6%. Angka ini mengalami peningkatan menjadi 37,2% pada tahun 2013. Stunting menggambarkan riwayat kekurangan gizi yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Stunting pada anak mengakibatkan penurunan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi. Kecenderungan untuk menderita penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, jantung dan obesitas akan lebih tinggi ketika anak stunting menjadi dewasa. Anak stunting mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata- rata anak yang tidak stunting. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, anak yang stunting memiliki risiko 9,2 kali lebih besar untuk memiliki nilai IQ di bawah rata-rata, dan rata- rata prestasi belajar lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Berikut beberapa Faktor Resiko penyebab terjadinya stunting pada anak :

        1.    Penyakit Infeksi

Ada beberapa penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak. Diantara penyakit infeksi tersebut, Diare dan ISPA merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada anak. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun yakni sebanyak 25,8%.
Penyakit infeksi memberikan dampak negatif terhadap status gizi anak dalam hal mengurangi nafsu makan dan penyerapan zat gizi dalam usus, terjadi peningkatan katabolisme sehingga cadangan zat gizi yang tersedia tidak cukup untuk pembentukan jaringan tubuh dan pertumbuhan. Menurut penelitian yang dilakukan di peru tahun 2003 , anak yang mengalami diare dalam kurun waktu 24 bulan pertama kehidupan cenderung untuk lebih pendek 1,5 kali dan terjadi peningkatan risiko stunting sebesar 7,46 kali pada anak yang diare. Sedangkan anak yang mederita ISPA, memiliki resiko 3 kali lebih besar mengalami gizi buruk.

        2.   Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Faktor resiko kedua penyebab terjadinya stunting pada anak adalah Berat Bayi Lahir Rendah. Anak dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram, memiliki risiko menjadi stunting sebesar 3 kali dibandingkan dengan anak yang lahir dengan berat badan normal. Prevalensi BBLR di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 10,2% dan jumlah terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 16,9%.

        3.   Rendahnya pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak. Anak dengan pendapatan keluarga yang rendah memiliki risiko menjadi stunting sebesar 8,5 kali dibandingkan pada anak dengan pendapatan keluarga tinggi. Penelitian yang pernah dilakukan di Maluku memperlihatkan bahwa salah satu faktor resiko stunting pada anak balita adalah status ekonomi sosial keluarga yang rendah. Biaya hidup  tinggi yang diperhadapkan pada pendapatan keluarga yang rendah akan membuat keluarga semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

        4.   Keturunan (salah satu orang tua pendek)

Penelitian yang dilakukan di aceh tahun 2014 menempatkan faktor Keturunan menjadi faktor yang paling dominan terhadap kejadian stunting pada anak. Hasil penelitian menunjukkan anak yang memiliki kedua atau salah satu orang tua yang pendek, memiliki risiko sebesar 13 kali untuk menjadi stunting dibandingkan dengan anak yang memiliki orang tua dengan tinggi badan normal.

        5.   Pola asuh yang kurang baik

Hasil penelitian di aceh tahun 2014 juga menyatakan bahwa pola asuh yang kurang baik merupakan salah satu Faktor Resiko terjadinya Stunting. Pola asuh yang dinilai yaitu dalam hal praktek pemberian makan, praktek kebersihan dan praktek pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu memberikan makan anak tidak memperhatikan pola gizi seimbang. Anak juga sering diberi makanan jajanan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal. Berdasarkan pengamatan di lapangan ada sebagian ibu yang tidak mencuci tangannya saat memberi makan pada anak dan setelah membersihkan buang air besar anak. Praktek kebersihan anak memengaruhi pertumbuhan linier anak melalui peningkatan kerawanan terhadap penyakit infeksi.

Kamis, 27 Oktober 2016

Sindrom Metabolik Serta Dampaknya Bagi Kesehatan


Sindrom Metabolik dan Dampak yang Ditimbulkan.


National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III) mengemukakan bahwa sindrom metabolik ialah seseorang yang memiliki setidaknya 3 dari kondisi berikut.

  • Obesitas abdominal
  • Peningkatan kadar trigliserida darah
  • Penurunan kadar kolesterol HDL
  • Peningkatan tekanan darah 
  • Peningkatan glukosa darah puasa 

Pada tahun 1920, seprang dokter asal swedia, Kylin, untuk pertama kalinya menggambarkan konsep sindrom metabolik ini. Ia menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan resiko penyakit kardiovaskuler (gangguan jantung dan pembuluh darah)  yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout. Tahun 1988, Gerald Reaven menunjukkan berbagai faktor resiko seperti dislipidemi, hiperglikemi, dan hipertensi secara bersamaan yang dikenal sebagai multiple risk factor untuk penyakit kardiovaskuler. Reaven menyebut keadaan ini sebagai Sindrom X yang dikenal dengan sindrom resistensi insulin lalu kemudian NCEP-ATP III menamainya dengan istilah Sindrom Metabolik. 

Sindrom Metabolik merupakan faktor terjadinya peningkatan penyakit kardiovaskular dan penyakit diabetes. Penderita Sindrom Metabolik memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena penyakit kardiovaskuler dan 5 kali lebih besar terkena penyakit diabetes. Sebanyak 17,3 Juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit kardiovaskuler bahkan diperkirakan, angka tersebut akan meningkat hingga 23,3 juta pada tahun 2030 sehingga inilah yang menyebabkan penyakit kardiovaskuler khususnya jantung ini menjadi penyebab utama kematian.

Obesitas dinilai sebagai faktor utama terjadinya sindrom metabolik. Seiring dengan peningkatan angka obesitas, peningkatan kasus sindrom metabolik juga semakin bertambah. Di Jakarta,  Sebanyak 34% dari 50 remaja obes berumur 10-19 tahun mengalami sindrom metabolik. Penelitian lain di Kota Makassar yang melibatkan 330 pria menemukan prevalensi sindrom metabolik sebesar 33.9%. Pria dengan obesitas sentral menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi yakni 62%. Cara terbaik untuk menghindari sindrom metabolik adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, dan melakukan aktivitas fisik serta melakukan pengaturan pola konsumsi sesuai dengan anjuran pedoman gizi seimbang.

Rabu, 26 Oktober 2016

Ber "Hijrah" dari 4 Sehat 5 Sempurna Menuju Gizi Seimbang


Saya percaya jika ilmu pengetahuan itu akan terus dan terus mengalami perkembangan, sehingga teori-teori atau pengetahuan-pengetahuan yang ada saat ini, belum tentu dapat kita terapkan di masa depan.

Berbicara masalah gizi berarti berbicara mengenai makanan, dan pengetahuan paling umum masyarakat kita mengenai makanan yang baik dalam beberapa dekade terakhir bahkan hingga saat ini ialah slogan "4 sehat 5 sempurna". Pendidikan gizi dengan Slogan 4 sehat 5 sempurna muncul pada tahun 1952. Prinsip ini diperkenalkan oleh Prof. Poorwo Soedarmo yang pada saat itu berkiblat pada prinsip Basic four Amerika Serikat. Kemunculan slogan tersebut dianggap berhasil dalam menanamkan pentingnya gizi di masyarakat sekaligus merubah pola konsumsi masyarakat.

Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, prinsip 4 sehat 5 sempurna yang terdiri dari makanan pokok sumber karbohidrat, lauk pauk, sayuran, dan buah-buatan serta susu sebagai penyempurna, ini sudah tidak sesuai lagi serta dinilai tidak dapat mengatasi masalah-masalah gizi yang kita alami saat ini. Sehingga, pada tahun 1992, konferensi pangan sedunia di Roma menetapkan prinsip baru yang diyakini mampu mengatasi beban ganda masalah gizi (gizi berlebih dan gizi kurang) yang sedang kita alami ini. Prinsip baru tersebut dikenal dengan prinsip gizi seimbang.

Beberapa hal yang paling mendasar mengapa 4 sehat 5 sempurna sudah tidak sesuai lagi di antaranya, perkembangan ilmu gizi telah mencapai titik dimana kebutuhan gizi setiap orang itu berbeda-beda sedangkan prinsip 4 sehat 5 sempurna menyamaratakan kebutuhan setiap individu. Hal ini dilihat dari tidak adanya informasi yang jelas mengenai jumlah yang harus dikonsumsi setiap hari. Sebagai contoh prinsip 4 sehat 5 sempurna dalam satu kali makan, seorang yang gemuk makan banyak nasi bisa dikatakan sehat asalkan dibarengi dengan lauk pauk, sayuran, serta buah dan disempurnakan oleh susu. Sedangkan dalam perkembangan ilmu gizi, orang yang gemuk dianjurkan mengkonsumsi makanan yang rendah karbohidrat. Hal lainnya seperti perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan pentingnya air putih memiliki peran penting dalam menilai status gizi seseorang.

Saya pikir, masih banyak di antara kita yang masih menggunakan prinsip 4 sehat 5 sempurna dalam menentukan pola konsumsi makanan. Semoga dengan melihat artikel ini, anda segera merubah pola konsumsi sesuai pedoman gizi seimbang.

Senin, 24 Oktober 2016

Obesitas dan Keyakinan Sosial Masyarakat


Dewasa ini, masih banyak masyarakat yang memiliki keyakinan sosial bahwa ciri anak sehat dapat dilihat ketika anak tersebut gemuk atau montok. Mereka meyakini bahwa anak yang memiliki banyak gizi merupakan anak yang dikategorikan sehat. Disamping itu masih banyak yang beranggapan bahwa gemuk tidaknya anak seseorang sangat berpengaruh penting terhadap status sosial keluarga khususnya bagi orangtuanya. Mereka menganggap bahwa ketika anak kurus, anak jarang diberi makan begitupun sebaliknya, semakin gemuk anak semakin sejahtera pula keluarganya. Padahal faktanya, kekurangan dan kelebihan gizi ini keduanya merupakan masalah dan keyakinan-keyakinan sosial seperti diatas harus kita hilangkan.

Harus diketahui, obesitas merupakan faktor risiko terjadinya penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi, dan berbagai macam penyakit kronis lainnya. Dalam kurun waktu 30 tahun, angka obesitas anak diseluruh dunia mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat. Prevalensi anak obesitas usia 6 sampai 11 tahun meningkat dari 6,5% menjadi 19,6% (1980-2008). Hal ini bukan hanya menjadi masalah di negara-negara maju, di negara-negara berkembang pun mengalami masalah yang sama.

Di Indonesia, kelebihan dan kekurangan gizi merupakan beban ganda yang sampai saat ini masih harus segera diselesaikan. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 menunjukkan, sebanyak 9,2% anak umur 6-12 tahun mengalami kegemukan. Anak ini mengalami peningkatan yang cukup besar pada tahun 2013 yakni 18,8% dengan gemuk 10,8% dan sangat gemuk 8,8%. Jika tidak dilakukan tindakan pencegahan, bukan tidak mungkin angka ini akan terus bertambah. Jadilah orangtua yang cerdas dan selamatkan anak anda dari masalah-masalah gizi.

Minggu, 23 Oktober 2016

Fitur OTG Tidak Didukung untuk Samsung Tab 4 7.0 Inci.


OTG (On The Go) adalah sebuah fitur yang saat ini boleh dikatakan memegang peranan cukup penting. Fitur OTG ini secara garis besarnya berfungsi membuat sebuah Smartphone atau Tablet dapat membaca koneksi USB sehingga para pengguna Smartphone saat ini dapat membaca Flash Disk dan beberapa perangkat lainnya yang menggunakan koneksi USB. Bukan hanya membaca, pengguna smartphone dapat bertukar file bahkan mengedit file yang berada dalam Flash Disk, sehingga fitur ini sangat berperan penting khususnya bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

Fitur OTG ini ternyata tidak dimiliki oleh semua jenis Smartphone ataupun tablet. Sehingga jika teman-teman sekalian ingin membeli sebuah Smartphone ataupun Tablet, terlebih dahulu disarankan agar mengecek apakah Smartphone atau tablet yang akan anda mendukung fitur USB OTG tersebut. Informasi tambahan bahwa harga sebuah Smartphone ataupun Tablet tidak menjamin. Semakin tinggi harga Smartphone atau Tablet belum menjamin apakah Smartphone atau Tablet tersebut mendukung fitur OTG atau Tidak.

Sebagai contoh pengalaman saya pribadi. Saya pernah membeli sebuah tablet Samsung (Samsung Tab 4). Samsung tab 4 7.0 inci ini saya beli bukan dengan tidak adanya pertimbangan. Namun, pada saat itu Fitur OTG belum menjadi pertimbangan saya. Perbandingan yang saya lakukan dalam memilih tablet pada saat itu hanya sebatas pada layarnya, besar ram, serta harga tentunya. Samsung Tab 4 memiliki layar yang lebih baik, serta kapasitas ramnya lebih besar dibandingkan pendahulunya, sedangkan tab S keluaran pertama yang memiliki spesifikasi jauh lebih baik dibanding samsung tab 4 pada saat itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga samsung tab 4 sehingga saya pribadi memutuskan untuk membeli samsung tab 4 saja. Setelah kurang lebih satu bulan pemakaian, saya berpikir untuk menggunakan tablet saya ini sebagai pengganti komputer untuk membantu saya menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan office. Saya pun membeli kabel OTG dengan harapan nantinya saya bisa menambahkan perangkat mouse melalui kabel OTG ini. Setelah memasangkan kabel OTG ke tablet dan menghubungkannya ke USB mouse, tablet tidak merespon. Kemudian saya mencari referensi mengenai masalah ini, beberapa mengatakan bahwa untuk menjalankan fitur OTG ini setidaknya harus menggunakan android 4.0 dan pada saat itu android tablet saya sudah menggunakannya namun tetap tidak merespon. Setelah sekian lama membaca referensi akhirnya saya menemukan jawaban disebuah forum gadget yang mengalami kondisi sama yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa samsung tab 4 7.0 inci tidak didukung dengan Fitur OTG.