Dewasa ini, masih banyak masyarakat yang memiliki keyakinan sosial bahwa ciri anak sehat dapat dilihat ketika anak tersebut gemuk atau montok. Mereka meyakini bahwa anak yang memiliki banyak gizi merupakan anak yang dikategorikan sehat. Disamping itu masih banyak yang beranggapan bahwa gemuk tidaknya anak seseorang sangat berpengaruh penting terhadap status sosial keluarga khususnya bagi orangtuanya. Mereka menganggap bahwa ketika anak kurus, anak jarang diberi makan begitupun sebaliknya, semakin gemuk anak semakin sejahtera pula keluarganya. Padahal faktanya, kekurangan dan kelebihan gizi ini keduanya merupakan masalah dan keyakinan-keyakinan sosial seperti diatas harus kita hilangkan.
Harus diketahui, obesitas merupakan faktor risiko terjadinya penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi, dan berbagai macam penyakit kronis lainnya. Dalam kurun waktu 30 tahun, angka obesitas anak diseluruh dunia mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat. Prevalensi anak obesitas usia 6 sampai 11 tahun meningkat dari 6,5% menjadi 19,6% (1980-2008). Hal ini bukan hanya menjadi masalah di negara-negara maju, di negara-negara berkembang pun mengalami masalah yang sama.
Di Indonesia, kelebihan dan kekurangan gizi merupakan beban ganda yang sampai saat ini masih harus segera diselesaikan. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 menunjukkan, sebanyak 9,2% anak umur 6-12 tahun mengalami kegemukan. Anak ini mengalami peningkatan yang cukup besar pada tahun 2013 yakni 18,8% dengan gemuk 10,8% dan sangat gemuk 8,8%. Jika tidak dilakukan tindakan pencegahan, bukan tidak mungkin angka ini akan terus bertambah. Jadilah orangtua yang cerdas dan selamatkan anak anda dari masalah-masalah gizi.
0 komentar:
Posting Komentar