5 Faktor Resiko Stunting Pada Anak

Kejadian stunting pada anak-anak masih merupakan masalah serius khususnya di Indonesia.

Dampak Minum Teh Setelah Makan

tahukah anda bahwa meminum segelas teh setelah makan mempunyai dampak negatif terhadap proses penyerapan makanan?

Gizi dan Anak Usia Dini

Ada berbagai macam masalah gizi yang melanda Indonesia saat ini khususnya bagi anak usia dini.

Sindrom Metabolik dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Sindrom Metabolik merupakan faktor terjadinya peningkatan penyakit kardiovaskular dan penyakit diabetes.

Dari 4 Sehat 5 Sempurna Menuju Gizi Seimbang

Tahukah Anda Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna Telah Diganti?

Rabu, 02 November 2016

Membedah 5 Faktor Penghambat Pemberian ASI Eksklusif


Salah satu indikator praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sesuai dengan ketetapan pusat promosi kesehatan ialah dengan pemberian ASI Eksklusif. Sayangnya, dari hasil riset ditemukan bahwa pemberian ASI Eksklusif menempati urutan dua terbawah dari 10 indikator PHBS. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 memperlihatkan sebanyak 38% ibu memberikan ASI Eksklusif. Angka ini masih tergolong kurang mengingat pentingnya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi usia 0-6 bulan. Beberapa faktor yang menghambat praktik pemberian ASI Eksklusif diantaranya :
1.     Produksi ASI yang kurang/tidak lancar
Salah satu alasan paling umum terhentinya pemberian ASI adalah produksi ASI yang tidak lancar/berkurang. Banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi ASI tersebut kurang/tidak lancar. Beberapa diantaranya ialah menderita anemia, mengalami penurunan badan yang drastis, stress, hanya menyusui pada satu payudara, dan beberapa faktor lainnya. Beberapa tanda yang timbul seperti anak tidak puas setelah menyusui, rewel, dan cepat berhenti menyusu dimaknai akibat kekurangan ASI sehingga inilah yang menjadi alasan umum sebagian besar ibu untuk berhenti memberikan ASI Eksklusif.
2.     Pemberian susu formula
Pemberian susu formula disinyalir sebagai faktor utama terhentinya praktik pemberian ASI Eksklusif. Salah satu penyebab rendahnya angka pemberian ASI Eksklusif akibat pemberian susu formula adalah susu formula dinilai mampu mengdongkrak berat badan bayi secara signifikan serta mampu membuat anak menjadi gemuk. Hal pertama yang harus kita luruskan adalah, bahwa gemuk bukanlah indikator seseorang dikatakan sehat. Sebaliknya, kegemukan itu sendiri merupakan sebuah masalah gizi yang sedang dialami oleh bangsa ini.
3.     Pengetahuan Orang tua tentang ASI
Hasil penelitian pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 84.6% ibu tidak mengetahui apa itu ASI Eksklusif. Ada 2 hal yang dapat saya simpulkan dari hasil penelitian ini. Yang pertama, bagaimana mungkin seorang ibu akan melakukan praktik Asi Eksklusif sedangkan sebagian besar ibu yang tahu saja masih memilih susu formula. Yang kedua, tingginya ketidaktahuan ibu terhadap ASI Eksklusif dapat menjadi cermin bahwa promosi kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah masih kurang.
4.     Pekerjaan
Terhambatnya praktik pemberian ASI Eksklusif juga dipengaruhi oleh status pekerjaan ibu. Ibu yang bekerja cenderung tidak memberikan ASI Eksklusif pada anaknya. Beberapa diantara mereka mengaku sulit jika harus bolak balik untuk menyusui serta kendala apabila harus ditugaskan diluar kota. Hal ini dapat dicegah dengan memeras ASI dan menaruhnya kedalam Freezer. ASI dapat bertahan di dalam Freezer hingga berbulan-bulan. Sebagai saran untuk perusahaan industry agar melonggarkan aturan terkait ibu menyusui.
5.     Mitos
Ada beberapa bahkan cukup banyak mitos mengenai ASI dan menyusui. Namun beberapa diantaranya yang menarik untuk dilihat seperti takut payudara akan kendur akibat menyusui. Faktanya, payudara kendur disebabkan oleh penambahan usia dan kehamilan yang menyebabkan pengurangan hormon. Banyak juga dari mereka yang beranggapan bahwa ASI pertama harus dibuang dan tidak boleh diberikan pada bayi. Sementara ASI pertama disebut juga sebagai kolostrum yang merupakan zat gizi terbaik bagi bayi.

Selasa, 01 November 2016

Ini Dia 3 Resiko Diet Vegan


Vegetarian merupakan sebutan untuk orang yang tidak makan daging termasuk unggas, makanan laut, atau produk yang mengandung unsur makanan tersebut. Secara umum vegetarian dikelompokkan menjadi lacto-ovo vegetarian, lacto vegetarian, dan vegan. Vegan sendiri dapat diartikan sebagai penganut vegetarian garis keras karena vegan adalah seorang vegetarian yang menghilangkan seluruh produk hewani beserta hasil olahannya kedalam dietnya.
Gaya hidup vegetarian telah berkembang pesat selama bertahun-tahun yang berawal dari suatu kebutuhan seseorang baik karena alasan agama maupun alasan kesehatan. Vegetarian disinyalir dapat menghindari penyakit degeneratif yang semakin meningkat di dunia maupun di Indonesia. Alasan lain seseorang menjadi vegetarian adalah alasan kosmetika yaitu untuk menjaga kehalusan kulit lebih bersih dan bersinar serta dapat mengontrol berat badan. Jumlah vegetarian di Indonesia yang terdaftar pada Indonesia Vegetarian Society (IVS) saat berdiri pada tahun 1998 sekitar 5.000 anggota dan meningkat menjadi 60.000 anggota pada tahun 2007 serta diperkirakan mencapai angka 500.000 orang pada tahun 2010. Berikut resiko yang kemungkinan timbul apabila seseorang melakukan diet vegan :
1.     Kekurangan Beberapa Jenis Zat Gizi.
Bagi Vegan yang sama sekali tidak mengkonsumsi produk olahan hewani seperti susu, telur, dan sebagainya, sangat beresiko kehilangan beberapa jenis zat gizi penting seperti protein, asam amino, asam lemak omega 3, omega 6, vitamin D, vitamin B12, kalsium, seng, tembaga, dan besi. Zat gizi yang paling berisiko tinggi mengalami defisiensi pada vegetarian akibat pola makan yang dianut dan memiliki fungsi yang sangat esensial bagi tubuh dalam pembentukan hemoglobin adalah protein. Selain itu, vitamin B12 yang hanya dikandung pada produk olahan susu dan telur. Ini membuat seseorang yang diet vegan harus memakan makanan hasil fortifikasi vitamin B12 untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya.

2.     Resiko Terkena Anemia
Kurangnya asupan protein dapat menyebabkan transportasi zat besi terhambat yang mengakibatkan defisiensi besi sehingga terjadi anemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita usia subur yang asupan proteinnya kurang memiliki peluang 2,25 kali untuk terkena anemia bila dibandingkan wanita usia subur dengan asupan protein tinggi.

3.     Resiko Peningkatan Trigliserida dan Kolesterol

-->
Ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa seorang yang diet vegan memiliki kecenderungan peningkatan kadar kolesterol dan Trigliserida. Hasil penelitian di Bali yang dilakukan pada tahun 2008 terhadap penganut Hindu Vegetarian menunjukkan, kadar kolesterol dan Trigliserida vegan justru lebih tinggi dibandingkan dengan non vegan. Begitu juga penelitian yang dilakukan pada lansia menunjukkan hal yang serupa. Seperti kita ketahui bersama, bahwa peningkatan kadar trigliserida akan menambah resiko terkena penyakit jantung.