Kamis, 27 Oktober 2016

Sindrom Metabolik Serta Dampaknya Bagi Kesehatan


Sindrom Metabolik dan Dampak yang Ditimbulkan.


National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III) mengemukakan bahwa sindrom metabolik ialah seseorang yang memiliki setidaknya 3 dari kondisi berikut.

  • Obesitas abdominal
  • Peningkatan kadar trigliserida darah
  • Penurunan kadar kolesterol HDL
  • Peningkatan tekanan darah 
  • Peningkatan glukosa darah puasa 

Pada tahun 1920, seprang dokter asal swedia, Kylin, untuk pertama kalinya menggambarkan konsep sindrom metabolik ini. Ia menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan resiko penyakit kardiovaskuler (gangguan jantung dan pembuluh darah)  yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout. Tahun 1988, Gerald Reaven menunjukkan berbagai faktor resiko seperti dislipidemi, hiperglikemi, dan hipertensi secara bersamaan yang dikenal sebagai multiple risk factor untuk penyakit kardiovaskuler. Reaven menyebut keadaan ini sebagai Sindrom X yang dikenal dengan sindrom resistensi insulin lalu kemudian NCEP-ATP III menamainya dengan istilah Sindrom Metabolik. 

Sindrom Metabolik merupakan faktor terjadinya peningkatan penyakit kardiovaskular dan penyakit diabetes. Penderita Sindrom Metabolik memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena penyakit kardiovaskuler dan 5 kali lebih besar terkena penyakit diabetes. Sebanyak 17,3 Juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit kardiovaskuler bahkan diperkirakan, angka tersebut akan meningkat hingga 23,3 juta pada tahun 2030 sehingga inilah yang menyebabkan penyakit kardiovaskuler khususnya jantung ini menjadi penyebab utama kematian.

Obesitas dinilai sebagai faktor utama terjadinya sindrom metabolik. Seiring dengan peningkatan angka obesitas, peningkatan kasus sindrom metabolik juga semakin bertambah. Di Jakarta,  Sebanyak 34% dari 50 remaja obes berumur 10-19 tahun mengalami sindrom metabolik. Penelitian lain di Kota Makassar yang melibatkan 330 pria menemukan prevalensi sindrom metabolik sebesar 33.9%. Pria dengan obesitas sentral menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi yakni 62%. Cara terbaik untuk menghindari sindrom metabolik adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, dan melakukan aktivitas fisik serta melakukan pengaturan pola konsumsi sesuai dengan anjuran pedoman gizi seimbang.

0 komentar:

Posting Komentar