Ada berbagai macam masalah gizi yang melanda Indonesia saat ini khususnya bagi anak usia dini. Jumlah balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang menurut hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013 ialah sebanyak 19,6%. Angka ini bertambah dari hasil riset sebelumnya pada tahun 2007 yakni 18,4% dan tahun 2010 sebanyak 17,9%. Dari hasil RISKESDAS tahun 2013, dapat dilihat bahwa anak yang mengalami gizi buruk sebanyak 5,7% sedangkan anak yang mengalami gizi kurang sebanyak 13,9%. Perlu diketahui bahwa, gizi buruk dan gizi kurang adalah dua masalah yang berbeda. Selain itu, permasalahan gizi anak usia dini yang tidak kalah pentingnya ialah stunting (anak pendek). Dari data hasil RISKESDAS tahun 2013, anak yang mengalami stunting mencapai angka 37,2%. Angka ini juga lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya 2010 yakni 35,6%. Sejauh mana kemudian stunting berpengaruh terhadap perkembangan anak usia dini?.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak pada saat anak usia 2 tahun. Dampak ketika anak usia dini mengalami stunting bukan hanya tinggi badan yang kurang maksimal (pendek), lebih jauh dampak stunting bagi anak usia dini ialah dapat menghambat perkembangan otak serta dapat menyebabkan kematian. Penelitian (Allen dan Gillespie, 2001) menyebutkan bahwa stunting pada balita merupakan faktor resiko meningkatnya angka kematian, menurunkan kemampuan kognitif dan perkembangan motorik rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang. Branca dan Ferrari (2002) menyatakan bahwa stunting pada balita berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bahasa dan motorik halus sedangkan stunting yang terjadi pada usia 36 bulan pertama biasanya disertai dengan efek jangka panjang. Sementara itu, penelitian-penelitian yang dilakukan dalam negeri juga menyatakan hal yang serupa. Penelitian yang dilakukan oleh Intje Picauli dan Sarci Magdalena di Kupang tahun 2013 menyatakan bahwa stunting berdampak sangat signifikan terhadap prestasi belajar anak. Penelitian lain menyebutkan bahwa status gizi baru lahir mempengaruhi proses perkembangan psikologis bayi umur 0-11 bulan baik aspek motorik, bahasa, kognitif, maupun sosial-emosi. Prof. Hamam Hadi, ahli gizi Universitas Gajah Mada (UGM) menyatakan bahwa kemampuan kognitif yang terhambat pada anak kurang gizi ini menyebabkan produktivitas ekonomi mereka menurun sehingga berdampak pada perekonomian nasional. Saat ini, Indonesia tidak hanya mengalami masalah tentang gizi kurang yang menyebabkan stunting. Indonesia juga mengalami masalah akibat kelebihan gizi (obesitas). Hal seperti ini biasa kita kenal dengan istilah beban ganda masalah gizi.
Adapun cara mencegah anak usia dini dari ancaman stunting ini diantaranya adalah :
- Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil dan menyusui merupakan kelompok yang rentan gizi.
- Pendidikan dan penyuluhan gizi bagi calon ibu dan ibu hamil.
- Pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan serta pemberian makanan pendamping ASI setelah 6 bulan.
- Perilaku hidup bersih dan sehat harus ditanamkan disetiap lingkungan keluarga
Dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh masalah gizi di atas, dapat kita simpulkan bahwa pendidikan gizi sangat penting bagi anak usia dini dan harus diterapkan sejak janin masih dalam kandungan. Seperti kita ketahui bersama, bahwa anak usia dini merupakan golden age (masa keemasan) dimana otak anak berkembang lebih dari 50%. Hal ini tidak akan terjadi ketika anak mengalami masalah-masalah gizi khususnya stunting. Oleh karenanya pendidikan gizi amat sangat penting diterapkan kepada orang tua untuk mencegah hal-hal yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.




0 komentar:
Posting Komentar