Dewasa ini, pengaturan pola konsumsi sangat
dibutuhkan bagi setiap masyarakat. Khususnya yang menderita penyakit tertentu,
seperti diabetes, hipertensi, jantung dan sebagainya, sangat dianjurkan untuk
mengatur pola makan sesuai dengan anjuran pedoman gizi seimbang. Bahkan, bagi
penderita penyakit seperti diabetes, wajib hukumnya menjaga dan mengatur pola
makanan agar penyakit tersebut tidak bertambah parah. Bukan hanya penderita,
orang yang sehat pun disarankan menjaga pola makan agar terhindar dari
penyakit-penyakit berbahaya tersebut.
Salah satu yang menjadikan sulitnya untuk
mengubah pola makan adalah faktor kebiasaan. Untuk merubah kebiasaan makan
seseorang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh tekad yang kuat,
konsistensi, bahkan pengorbanan untuk dapat merubah kebiasaan makan secara
total. Lantas, jika kita misalnya menderita penyakit seperti diabetes, haruskah
kita merubah kebiasaan makan kita? jika dikatakan bahwa kita harus menghindari
makanan yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah saya sepakat. Namun,
jika dikatakan harus merubah kebiasaan makan saya kurang setuju. Sebab, untuk
menghindari peningkatan kadar glukosa darah tidak harus dengan mengganti
kebiasaan makan. Sebagai contoh, orang yang memiliki kadar glukosa tinggi,
memiliki kebiasaan minum teh setiap pagi. Jika ia ingin menurunkan kadar
glukosa darahnya apakah harus dengan merubahnya kebiasaannya menjadi tidak
minum teh setiap pagi? Ada alternatif lain seperti mengganti dengan teh tanpa
gula atau dengan mengganti gula tersebut dengan gula rendah glukosa, sehingga
orang ini tetap dapat minum teh setiap pagi tanpa harus khawatir kadar glukosa
darahnya meningkat. Itulah menurut saya salah satu tantangan terbesar dari para
ahli gizi, bagaimana mereka tidak menyarankan untuk merubah kebiasaan makan
kepada penderita, tetapi memberikan solusi dimana penderita/pasien tetap dapat makan
sesuai dengan apa yang mereka sukai tanpa harus khawatir dengan penyakitnya.
Untuk itu seorang ahli gizi dituntut untuk
selalu terus berinovasi menemukan dan menciptakan terobosan-terobosan baru serta
penelitian-penelitian yang berkualitas yang mampu membuat Indonesia keluar dari
beban ganda masalah gizi yang sedang dialami saat ini. Cupcake dari tepung
jagung terfermentasi serta brownies dari tepung biji kecipir merupakan sebagian
kecil inovasi yang telah dilakukan oleh para ahli gizi.




0 komentar:
Posting Komentar